Langsung ke konten utama

Meningkatkan Minat Baca itu Penting


Pentingnya Meningkatkan Minat Baca di Antara Kita

SDN 109 Kajang Keke

Minat baca seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap
kebiasan membaca. Karena apabila seseorang membaca tanpa mempunyai kemauan
membaca yang tinggi maka orang tersebut tidak akan membaca dengan serius dan sepenuh
hati. Apabila seseorang membaca atas kemauan atau kehendaknya sendiri maka orang
tersebut akan membaca dengan sepenuh hati.
Apabila seseorang sudah terbiasa dengan membaca, kebiasaan tersebut akan dilakukan
secara terus-menerus. Selain itu. kegemaran membaca memberikan dampak yang positif
untuk orang tersebut. Karena minat baca yang sangat tinggi menjadikan minat belajarnya
pun juga tinggi dan membuat orang tersebut memiliki wawasan yang luas.
Seseorang yang senang membaca akan mempunyai pengetahuan yang luas dari buku yang
dibacanya. Sangat disayangkan, apabila seseorang tidak suka membaca atau mempunyai
minat membaca yang rendah karena pengetahuan orang tersebut akan sempit.
Minat atau kemauan untuk membaca adalah sumber motivasi yang sangat penting dan kuat
bagi seseorang untuk menganalisa dan mengingat serta mengevaluasi bacaan yang telah
dibacanya karena orang tersebut membaca sebuah buku memang karena ia ingin membaca
buku tersebut dari hati, yang merupakan pengalaman belajar menggembirakan. Minat baca
akan mempengaruhi bentuk serta intensitas seseorang dalam menentukan cita-citanya
kelak di masa yang akan datang. Hal tersebut merupakan sebuah proses pengembangan diri
yang memiliki peran besar dalam hidup seseorang, maka dari itu kemauan ini harus
senantiasa diasah, dikembangkan, dan didalami sebab minat membaca tidak diperoleh dari
lahir secara cuma-cuma.
Membaca adalah berpikir. Berpikir merupakan suatu proses untuk mengenali, memahami,
dan kemudian menginterpretasikan lambang-lambang yang bisa mempunyai arti. Di sini
banyak terlibat unsur-unsur psikologis seperti kemampuan dan atau kapasitas kecerdasan,
minat, bakat, sensasi, persepsi, motivasi, retensi, ingatan, dan lupa, bahkan ada lagi yaitu
kemampuan mentransfer dan berpikir kognitif yang akan membantu orang tersebut dalam
memahami seberapa banyak pengetahuannya mengenai banyak hal, bagaimana ia
memandang hidup yang ia jalani, ke mana arah yang sebenarnya ingin ia capai dan pastinya
akan membuat seseorang menjadi haus pengetahuan karena ia sadar seberapa kecil
pengetahuan yang baru ia gali
Rendahnya minat baca sangat berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor eksternal dan faktor
internal.
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemauan dan
kebiasaan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor dari luar diri seseorang atau

faktor lingkungan, baik dari lingkungan keluarga, tetangga maupun lingkungan sekolah.
malah menuntun seseorang semakin jauh dari dunia literatur. Faktor eksternal ini juga
sangat berpengaruh besar terhadap diri siswa tersebut, yaitu mempengaruhi motivasi,
kemauan dan kecenderungan dalam membaca.
Rendahnya minat baca selain disebabkan oleh faktor di atas, juga disebabkan faktor lain,
yaitu masih rendahnya kemahiran membaca seseorang, khususnya siswa yang masih
bersekolah. Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student
Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas (2003) menyatakan
bahwa “Kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan.
Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen
hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan.”
Minat Baca para siswa di Indonesia sangat rendah dilihat dari data. Muchlas (2000)
menyatakan bahwa “Minat baca para siswa betul-betul jeblok yaitu siswa SD menduduki
urutan ke 38 dan siswa SLTP urutan ke 34 dari 39 negara”.
Rendahnya minat baca siswa disebabkan oleh banyaknya jenis hiburan, permainan (game),
tayangan TV dan internet yang mengalihkan perhatian siswa dari buku. Dengan adanya
hiburan, permainan dan tayangan TV menyebabkan waktu yang seharusnya bisa digunakan
untuk membaca habis digunakan untuk bermain, menonton TV dan berselancar di internet.
Ramainya pengunjung di warnet sampai larut malam merupakan sebuah bukti
berkurangnya minat membaca generasi muda di Indonesia, bahkan juga ada yang sampai
menginap berhari-hari di warnet demi bermain game. Dapat dilihat, siswa tersebut tidak
mencari bahan rujukan untuk menyelesaikan tugas dari sekolah tetapi sebagian besar hanya
bermain-main dengan games-games yang membuat mereka asyik sampai lupa waktu.
Kedua, banyaknya tempat hiburan yang menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat
karaoke, mall, supermarket, dan play station. Bahkan sebagaian besar waktu mereka
habiskan untuk menonton sinetron yang content-nya kurang mendidik. Tidak heran jika
semakin lama pengunjung perpustakaan akan semakin sedikit karena mereka lebih memilih
untuk meluangkan waktu di mall ataupun menonton film daripada menggunakan waktu
mereka untuk membaca.
Padahal sebenarnya jauh lebih bermanfaat membaca daripada menghabiskan waktu untuk
menonton, bermain games, membuka internet dan pergi ke mall.
Ketiga, budaya membaca bukan budaya nenek moyang kita sehingga orang Indonesia
khususnya generasi muda tidak menjadikan membaca buku sebagai sebuah hal yang
penting, apalagi dijadikan kebiasaan. Dulu kita terbiasa mendengar dan belajar dari dongeng
atau cerita yang diceritakan oleh orang tua kita.
Kelima, harga buku yang masih sangat mahal tidak sebanding dengan daya beli masyarakat.
Mahalnya harga buku menyebabkan buku tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Maka
makin sedikit buku yang ada di perpustakaan sehingga pengunjung yang datang ke
perpustakaan semakin berkurang. Duta Baca Nasional (2006) menyatakan bahwa
“Masyarakat tidak bisa disalahkan karena rendahnya minat baca. Kondisi perpustakaan
tidak mendukung dan jumlah koleksi buku juga terbatas”.
Peran serta masyarakat dalam mengembangkan perpustakaan dan memberikan
pemotongan pajak untuk buku pelajaran sehingga harga buku dapat dijangkau oleh
masyarakat luas merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan minat baca siswa .
Menumbuhkan minat baca para siswa memerlukan waktu yang lama karena membutuhkan
proses membentuk minat baca seseorang dan mengubah paradigma masyarakat Indonesia
untuk mulai menganggap bahwa membaca itu sangat penting.
Dampak yang ditimbulkan akibat sangat rendahnya minat baca seseorang. Jika
dibandingkan dengan negara-negara lain Indonesia mempunyai minat baca yang rendah.
Hamijaya (2008) menyatakan bahwa: “Fakta dan hasil penelitian menunjukkan rendahnya
minat baca masyarakat kita merupakan dampak dari kebijakan nasional pembangunan
politik pendidikan (budaya) yang tidak memberi ruang kreatif bahkan membelenggu
berkembangnya minat baca masyarakat.”
Penyebab lain rendahnya minat baca, yaitu kurang lengkapnya sarana pembelajaran dan
budaya membaca. Untuk membaca buku saja siswa harus membeli buku karena kurang
lengkapnya koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah-sekolah yang merupakan salah satu
penyebab berkurangnya minat baca siswa.
BPS (2008) menyatakan bahwa, “Fakta menunjukkan Indonesia belum menjadikan membaca
sebagai informasi mereka lebih memilih TV dan mendengarkan radio yang kenaikan hampir
211,1 persen.” BPS (2006) menyatakan bahwa “Masyarakat Indonesia yang memilih
membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk, sedangkan
yang memilih menonton TV untuk mendapatkan informasi sebanyak 85,9 % dan radio 40,3
%.”
Dari data di atas, sangat disayangkan karena sedikitnya antusias masyarakat Indonesia
untuk membaca dan lebih memilih dengan menggunakan media lain untuk mengetahui
informasi. Hal tersebut menyebabkan dampak yang kurang baik bagi mutu pendidikan di
Indonesia. Padahal membaca merupakan kunci seseorang untuk menuju kesuksesan di
kemudian hari.
Seperti halnya siswa, jika siswa tersebut tidak menyukai dan terbiasa membaca atau sangat
rendah minat bacanya maka akan menyebabkan prestasi siswa tersebut juga kurang baik.
Apabila para siswa tidak suka membaca maka pengetahuan mereka juga akan sempit dan Dengan membaca, siswa bisa mendapatkan informasi-informasi yang belum diketahui oleh
mereka dan buku merupakan sebuah sumber segala ilmu juga merupakan jendela dunia.
Apabila kita tidak memupuk minat baca yang kuat, maka akan menimbulkan dampak negatif
yang sangat besar dan fatal. Seperti, menurunnya prestasi seorang siswa dan berpengaruh
pada menurunya kualitas output sumber daya manusia Indonesia dan juga akan
mempengaruhi mutu pendidikan di Indonesia. Mutu pendidikan yang seharusnya membaik
tetapi malah menurun disebabkan oleh rendahnya minat baca siswa.
Adapun peranan guru dalam meningkatkan minat baca siswa (Miyan, 2016) adalah sebagai
berikut:
1. Dinamisator, guru mengatur dan mengelola semua kegiatan membaca anak dengan
mendinamiskan seluruh sumber bacaan.
2. Evaluator, guru memberikan respons terhadap seluruh kegiatan membaca anak dan
menilai hasil bacaan anak dengan memberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil
pemahaman terhadap yang dibacanya.
3. Konselor, guru memberikan petunjuk-petunjuk untuk menciptakan susana psikologis
yang kondusif demi terwujudnya jiwa, semangat, dan motivasi dalam membaca yang
optimal.
4. Motivator, guru menjadi seseorang yang selalu mendorong dan memotivasi anak untuk
mewujudkan minat baca yang tinggi.
5. Supervisor, guru mengawasi proses membaca anak, baik dalam jarak dekat maupun jarak
jauh agar anak merasa selaluada yang mengawasinya.
Strategi yang dapat diterapkan dalam meningkatkan minat baca siswa adalah:
1. Proses pembelajaran mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca buku
2. Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik.
3. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca anak-anak.
4. Menumbuhkan minat baca sejak dini.
5. Meningkatkan frekuensi pameran buku di setiap kota/kabupaten dengan melibatkan
penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat pecinta buku, Depdiknas, dan sekolah-sekolah.
Dengan mewajibkan siswa untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.
2. Memiliki niat yang tulus untuk membaca.
3. Library visit, sering mendatangi perpustakaan setiap ada waktu luang.
4. Menambah wawasan dengan menyisihkan uang lebih untuk membeli buku, minimal satu
buku setiap bulannya, bukan membeli pulsa
5. Memulai membaca sebuah buku dengan membaca daftar isinya terlebih dahulu.
6. Mencatat setiap ada informasi penting dari buku yang dibaca, dan bersenang-senang
dengan buku
7. Book talks, atau menceritakan atau menyampaikan informasi yang telah diperoleh setelah
membaca buku kepada teman, begitu juga sebaliknya.
Selain peran serta guru dalam meningkatkan minat baca, orang tua pun berperan aktif
membantu menumbuhkan minat baca siswa, di antaranya:
1. Menyediakan waktu luang untuk membacakan buku untuk anak anda setiap hari
2. Mengelilingi anak-anak anda dengan berbagai buku bacaan
3. Membuat waktu membaca bersama keluarga
4. Memberikan dukungan pada berbagai aktivitas membaca mereka.
5. Membiasakan pergi ke perpustakaan.
6. Terus mengikuti perkembangan membaca anak anda
7. Lebih perhatian pada anak, apakah mereka dapat membaca dengan lancar atau tidak
8. Mencari pertolongan secepatnya jika ada masalah dalam membaca
9. Memakai cara yang bervariasi untuk membantu anak
10. Memperlihatkan antusias kita saat anak membaca buku bacaannya.
Dengan adanya kerja sama antara guru, orang tua, dan aparat yang terkait serta membuat
kegiatan yang rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca di kalangan.

Komentar